Rizal Hilman R

“Have A Nice Day”

Posted by: rizalhilman on: 17 November 2009


“Have A Nice Day”

San Francisco Bay
Past pier thirty nine
Early p.m.
Can’t remember what time
Got the waiting cab
Stopped at the red light
Address, unsure of
But it turned out just right

It started straight off
“Coming here is hell”
That’s his first words
We asked what he meant
He said ” where ya’ from?”
We told him our lot
“When ya’ take a holiday
Is this what you want?”

So have a nice day
Have a nice day
Have a nice day
Have a nice day

Lie around all day
Have a drink to chase
“Yourself and tourists, yeah
That’s what I hate”
He said “We’re going wrong
We’ve all become the same
We dress the same ways
Only our accents change

So have a nice day
Have a nice day

Swim in the ocean
That be my dish
I drive around all day
And kill processed fish
It’s all money gum
No artists anymore
You’re only in it now
To make more, more, more

So have a nice day
Have a nice day

Untuk Halaman Depan

Posted by: rizalhilman on: 16 November 2009

Agama menjadi sendi hidup, pengaruh menjadi penjaganya.

Kalau tidak bersendi, runtuhlah hidup dan kalau tidak berpenjaga, binasalah hayat.

Orang yang terhormat itu, kehormatannya sendiri melarangnya berbuat jahat.

– Pepatah Arab

 

Tidak ada keraguan sebelumnya sejak 4 tahun lalu memilih masuk jurusan Ilmu Pemerintahan di FISIP UNPAD khususnya, memilih dengan idealisme yang penuh percaya diri sejak masa-masa SMA, yang akhirnya Alhamdulillah bisa sesuai dengan keinginan dan kehendak sendiri. Dengan tekad dan idealisme itulah saya shock karena menemukan realitas yang berbeda dengan apa yang saya bayangkan 4 tahun lalu tentang menjadi mahasiswa itu sendiri, saya belajar menemukan arti ilmu pemerintahan yang tidak sekedar memaknai pemerintah sebagai rule (berkuasa) namun berubah paradigmanya menjadi role (berperan), belajar menganalisis, belajar memaknai, belajar secuil arti hidup yang luar biasa pada tahun pertama hingga terkahir masa-masa kuliah, hingga belajar menemukan mental bangsa yang menjadi fakta kenapa kita kalah kelas dengan orang-orang dari negara-negara maju khususnya.

Membuat skripsi tidak semudah yang dibayangkan, terkadang lebih menyenangkan masa-masa kuliah dibandingkan masa-masa menyusun skripsi, tingkat kejenuhan yang tinggi, rasa malas yang besar, membuat banyak sekali hambatan dalam penyusunan skripsi ini, disamping masalah dan substansi yang saya analisis dalam skripsi ini, menurut teman-teman terlalu idealis atau sulit, tapi saya yakin bisa, dan ternyata Alhamdulillah bisa!

Dengan mengangkat judul skripsi Peran Pemerintah dalam Penyelesaian Konflik antar Umat Beragama, dengan sub judul Studi Tentang Penyelesaian Konflik antara Kelompok Islam Anti Ahmadiyah dengan Kelompok Ahmadiyah di Desa Manis Lor Kabupaten Kuningan sebenarnya merupakan titik balik dari kebingungan mengangkat sebuah masalah untuk skripsi yang saya susun. Namun berkaca pada potensi dan keragaman bangsa Indonesia yang memiliki corak-corak tertentu terlebih mengenai masalah-masalah sensitif seperti agama, saya akhirnya memutuskan untuk menganalisis peran pemerintah dari sudut pandang penyelesaian konflik tersebut, terlebih saya memiliki perhatian lebih terhadap masalah-masalah konflik agama dan masalah-masalah keragaman juga pluralisme, oleh karena itulah judul tersebut diambil dengan harapan dalam hati kecil, apa yang saya sampaikan walau terkesan sangat sederhana, merupakan bukti kecintaan pada asma-asma Allah SWT dan sikap tauladan Rasullullah SAW dalam diri saya sebagai penganut agama Islam.

Setelah sidang skripsi, lalu wisuda, kemudian menjadi sarjana, timbul banyak pertanyaan dalam diri saya. Mau jadi apa? karena menjadi sarjana di Indonesia ibarat berada tengah-tengah garis antara surga dan neraka. Ya! Mungkin saya ibaratkan seperti itu, menjadi sarjana berarti membawa beban ilmu, membawa tanggung jawab meluruskan niat dan tujuan dari ilmu yang kita bawa tersebut. Bermanfaatkah? Atau malah merugi? Ya inilah realitas sarjana kita, para sarjana Indonesia, entah bagaimana saya harus menanggapinya, karena inilah fase awal bagi saya menjadi sarjana, membawa ilmu, memikul tanggung jawab, namun bekaca pada idealisme dan cita-cita saya 4 tahun silam sebelum menjadi mahasiswa, why not? Nothing Immposible! Saya bisa! Menjadi sarjana yang luar biasa yang tidak sekedar menyandang sebuah gelar. Semoga menjadi pemicu semangat dan membawa kebaikan bagi segenap pembaca.

***

Penelitian ini tentu tidak akan ada tanpa kontribusi banyak pihak. Dari pembuat kebijakan tertinggi di Universitas Padjadjaran, Rektor UNPAD Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, hingga di tingkat Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Dekan FISIP UNPAD Prof. Dr. H. A. Kartiwa, Drs.,S.H.,M.S.. Para pimpinan di Jurusan Ilmu Pemerintahan Unpad, Ketua Jurusan Prof. Dr. Nasrullah Nazsir, Drs., MS., Sekertaris Jurusan, Ibu Dede Sri Kartini, Dra., M.Si., beserta jajaran dosen, dosen wali, dan para penasehat intelektual di almamater. Di kampus inilah, saya belajar untuk memahami Ilmu Pemerintahan sebagai ‘ilmu’. Sentuhan Bapak/Ibu, baik secara langsung maupun tidak, telah memberi banyak bahan ajar dan ilham berharga. Begitupun dengan guru-guru semasa TK sampai SMA yang akhirnya mengantarkan saya hingga bisa menjadi sarjana, semoga Allah memberikan kemuliaan tiada tara bagi engkau sekalian.

Tidak lupa penelitian ini tidak akan selesai tanpa bantuan bapak/ibu dari instansi pemerintahan Kabupaten Kuningan khususnya Kesbangpol Linmas Kab. Kuningan, kepada Bapak Suherman S.E atas info dan sharing tentang masalah penelitian dengan saya jazakumullah khairan katsira atas perhatian dan bantuannya. Semoga ikhlas dan jadi amal ibadah. Kepada kepala Desa Manis Lor dan jajarannya, para tokoh Ulama Kab. Kuningan, MUI dan FKUB Kab. Kuningan, dan seluruh masyarakat di Kuningan, terima kasih banyak atas keramahan dan kebaikan bapak/ibu sekalian, hatur nuhun saageung-ageungna atas semua dukungan yang diberikan.

Tidak lupa terima kasih sebesar-besarnya untuk kedua pembimbing saya, Ibu Dr. Hj. Tati Rukminijati, Dra., M.Si, dan Bapak Iman Soleh, S.IP., M.Si yang tidak hanya membimbing proses penyusunan skripsi dengan luar biasa, namun juga membina mental, sikap, dan mengajarkan kesabaran kepada saya. Semoga Allah memberikan balasan dan kemuliaan yang paling baik.

Secara khusus saya ingin meng-hatur-kan salam sayang dan berjuta penghargaan untuk seluruh keluarga besar baik di Cimahi, maupun di Cibiru hingga Tanjung Sari via Jatinangor. Kepada papap (H.A. Djaelani) dan mamah (Hj. Iis Hermawati, Dra.) atas segalanya, atas semuanya yang tidak bisa saya ungkapkan. Dengan berjuta kasih dan sayang, maafkan anakmu yang terlambat mengejar ketertinggalan ini, suatu saat anakmu ini pasti membahagiakan papap dan mamah dengan cara yang luar biasa. Semoga papap sama mamah selalu dimuliakan Allah SWT, atas kasih sayang, nasihat, marah, jengkel, hingga kesabarannya melihat anaknya tertatih-tatih mengejar ketertinggalan jaman untuk menjadi maju dan tidak hanya membahagiakan papap sama mamah tapi juga seluruh orang.

Kepada Uu (Alm), Amih (Alm), Abah (Alm), Ema, Eyang, Eyang Putri, yang selalu mendoakan cucunya,  kepada Bebe (Eem Nurnawati, Ir., M.Si), Om (Sudiono, Drs.) yang tak pernah sungkan bagai orangtua sendiri, membimbing dan menasehati, sampai menampung keberadaan saya pada masa-masa kuliah. Untuk para mang (paman) dan bibi di Cimahi atas doa dan semangatnya. Kepada Aman, Uun, Anis, Gia, Alifah, Ican, Finna, Amel, Dea, Kiki, Rizky, Ghina, Oci, dan seluruh sepupu-sepupuku for flawless healing cheerfulness. Tumbuhlah kelak menjadi pencinta-pencinta Allah Sang Mahacinta. Para jamaat pengajian, ustad-ustadzah, para santri Miftahus Shiddiq atas doa dan inspirasi kepada saya.

Kepada Rahayudiningsih, atas perhatian, sharing, diskusi, sampai masukan-masukan yang begitu berharga kepada saya, semoga Allah merahmatimu dengan kasih sayang Nya yang begitu luar biasa. Kepada sahabat-sahabat satu Angkatan 2005 di IP FISIP UNPAD, atas kebersamaannya yang begitu luar biasa kepada Aji, Teja, Insan, Rio, Randy, Amal, Imam, Gema, Guruh, Ikhsan, Gilang, Rizky, Deka, Asep, Decko, Adit, Difa, Sifa, Gita, Dewi, Astri, Reri, Kinan, Dhira Beta, Hana, (alm) Sari Utami — semoga Allah menempatkanmu di tempat yang terbaik., Stepi, Cikla, Vivien dan seluruhnya maafkan saya selama menjadi Ketua Murid Akademik selalu bikin susah. Semoga kebersamaan kita tidak berhenti sampai wisuda saja. Kepada rekan-rekan BEM FISIP UNPAD periode 2008-2009, kepada partner, juga sahabat M. Maulana Fadli atas inspirasi dan kebersamaan dalam membangun organisasi, kepada Mira, Tine, Adi, Panji, Fikri, Ferren, Yanti, Imel, Reza, Rivano terima kasih banyak semoga Allah menjadikanmu tauladan dan dirahmati Allah SWT.

Teman-Teman Alumni SMA Plus Muthahhari Angkatan 11 khususnya, sahabat-sahabat, Aditya, Ghifary, Arifa, Rifki, dan seluruhnya yang telah banyak memberikan inspirasi, terima kasih atas komunikasi yang terus terjalin, semoga para khafilah mulia ini masih terus berjuang menuju sahara yang tak terhingga. Kepada teman-teman Alumni SMP Negeri 6 dan 8 Cimahi yang masih menjalin komunikasi, Sandy, Adrian, Fitra terima kasih atas semangat dan dukungannnya. Dan kepada teman-teman SD Kartika III- 4 Cimahi, yang sampai saat ini juga masih menjalin silaturahmi, Aryansah, Isthy, Anggia, Yuma, Destri, Ryan, dan seluruhnya terima kasih banyak atas sharing dan berbagi pengalaman, semoga apa yang kita jalin sejak berkumpul dari SMA tidak kemudian putus di tengah jalan.

Hanya kepada Allah sajalah saya memohon untuk seluruh pihak yang tidak bisa dicantumkan dalam kesempatan ini, semoga diberi pahala untuk setiap amal, jasa, maupun do’a yang telah dishadaqahkan dengan rahmat dan syurgaNya.

Hanya kepada Allah jualah saya memanjatkan sanjung tertinggi atas segenap anugerah yang dikaruniakanNya hingga karya mini ini tuntas, meski dengan kekurangan di sana-sini. Demi KeagunganNya, adanya kekurangan itu semua berasal dari kelemahan saya pribadi. Dan, tentu saja, dengan jembar hati saya menanti kritik juga koreksi progressif dan produktif.

Untuk kaum dhua’fa dan tertindas, dan para pencari kebenaran, saya persembahkan karya sederhana ini.

Alhmadulillahhirobbil’Alamin

Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad Wa ‘Ali Muhammad

 

 

Jatinangor, November 2009

 

Rizal Hilman R

 

 

 

Jadi.. setelah skripsi ini selesai  MAU JADI APA??”?

LPJ BEM FISIP 2008-2009

Posted by: rizalhilman on: 2 Juni 2009

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN
KETUA dan WAKIL KETUA BEM FISIP UNPAD
PERIODE 2008-2009

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

HIDUP MAHASISWA!!

Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada suri tauladan kita Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya dan seluruh pengikut jejak langkahnya hingga akhir zaman. Semoga kita termasuk dalam golongan yang diberikan syafaat olehnya di hari nanti. Amin.
Kawan-kawan mahasiswa yang saya cintai,
Dalam kesempatan yang berbahagia ini, ijinkan saya, mewakili Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP Unpad periode 2008-2009, untuk menyampaikan pertanggungjawaban atas amanah yang kami emban hingga hari ini. Prinsip yang senantiasa kita pegang adalah bahwa pertanggungjawaban ini bukan sekedar pertanggungjawaban semu di dunia, namun apa yang kami sampaikan kali ini semoga dapat meringankan proses pertanggungjawaban kita di akhirat kelak. Oleh karena itu, kejujuran, keterbukaan, meskipun menyakitkan harus kita junjung tinggi.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universiatas Padjadjaran merupakan aset yang luar biasa potensial, yang berjumlah tidak kurang dari 2400 mahasiswa dalam satu kali tahun ajaran. Bermacam-macam pemikiran, kebiasaan, hingga karakter telah membentuk citra mahasiswa FISIP Unpad itu sendiri. Citra sebagai mahasiswa sejati yang kritis terhadap keadaan perubahan zaman, kritis akan ketidaksesuaian kata dan perbuatan, realitas dan idealitas, serta kritis dalam memperjuangkan kebenaran. Untuk menampung kebutuhan mahasiswa FISIP tersbut diperlukan sebuah lembaga yang dapat menaungi dan memfasilitasi pengaktualisasian diri dalam sebuah keluarga mahasiswa. Keluarga mahasiswa FISIP Unpad kemudian menetapkan salah sebuah lembaga kemahasiswaan yang bernama Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP Unpad (BEM FISIP Unpad).
BEM FISIP Unpad sebagai salah satu lembaga intra kampus FISIP Unpad merupakan wadah yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa FISIP Unpad untuk berekspresi dan mengaktualisasikan dirinya. Periode 2008-2009 merupakan periode yang sangat penting, berada pada tahun politik nasional, berada pada persimpangan jalan dalam menentukan arah gerak juangnya. Oleh sebab itu, arah gerak tersebut kemudian ditelurkan menjadi sebuah shared vision dalam kata “Bersih, Inklusif, Aspiratif, dan Prestatif”.
Bersih dalam niat, berjuang tanpa memihak kepentingan politik pragmatis. Senantiasa inklusif dalam bertindak, bersinergi dengan berbagai lembaga yang berada dalam lingkungannya baik di dalam maupun di luar kampus. Berupaya menampung asprasi sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Dan prestatif, senantiasa memberikan nilai tambah dengan menunjukkan prestasi terbaik yang dapat diraih dalam setiap gerak langkahnya.

”Semoga apa yang kami lakukan adalah makna, makna yang bisa dipetik dan dirasakan semua,
makna yang tidak akan muncul jika hanya sekedar terdiam dan berkomentar, tapi makna yang timbul karena penghargaan dan keyakinan”

Jatinangor, 2 Juni 2009

Ketua BEM FISIP UNPADPeriode 2008-2009

M. Maulana Fadli
G1C050051

Wakil Ketua BEM FISIP UNPAD   Periode 2008-2009

Rizal Hilman R
G1D050086

DIALOG SUNDA DAN POLITIK

Posted by: rizalhilman on: 5 Februari 2009

“The central conservative truth is that it is culture, not politics, that determines the success of asociety. The central liberal truth is that politics can change a culture and save it from itself”,

Daniel Patrick Moynihan.

Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur atas nikmat Allah S.W.T., yang dengan rahmat-Nya kita dapat menyelenggarakan pertemuan hari ini. Kita berharap agar apa yang kita lakukan di sini dan pembahasan-pembahasan yang kita adakan dalam rangka dialog ini, mendapat ridho-Nya dan akan bermanfaat bagi bangsa dan negara, bagi masyarakat Sunda dan Jawa Barat pada umumnya.

Pada awal sambutan ini saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-setingginya pada P.B. Paguyuban Pasundan yang telah menyelenggarakan acara dialog ini, sebagai penutup dari rangkaian kegiatan milangkala ke-87 organisasi yang kita cintai ini. Dialog ini diselenggarakan satu hari menjelang hari Sumpah Pemuda. Bukan suatu hal yang kebetulan. Tentunya ada pesan khusus dibalik itu, yang saya yakini tidak lain adalah untuk mengingatkan kita sejak awal, sejak sebelum dialog ini dimulai, bahwa 73 tahun yang lalu bangsa Indonesia yang diwakili oleh para pemudanya, telah megumandangkan suatu pesan kebangsaan:

bahwa penduduk di tanah air dan nusantara Indonesia ini adalah satu bangsa.

Dengan semangat itu, kita akan mengadakan dialog politik yang temanya adalah “Evaluasi, prediksi, dan aplikasi politik Ki Sunda ke depan”. Judul ini memang “seram”, tetapi maksudnya jelas bukan untuk menyeramkan. Justru dialog ini diadakan untuk membuka katup-katup, agar arus dan desakan aspirasi yang berada dibawah permukaan dapat dibuka, untukmencegah terjadinya letupan-letupan. Maksudnya adalah untuk mengendurkan ketegangan, danmenyalurkan gelombang dan dinamika politik rakyat di Jawa Barat ke arah yang positif dankonstruktif, yang bermanfaat baik bagi kehidupan masyarakat di tatar Sunda ini, maupun untuk kehidupan bangsa dan negara pada umumnya.

Kita telah menyaksikan betapa di banyak daerah lain, aspirasi dan dinamika tersebut telah meledak menjadi gerakan-gerakan politik yang bersifat sentripetal, bahkan ada yang menjurus ke arah separatisme. Kita melihat Aceh telah memperoleh status otonomi yang luas, yang kita harapkan akan membantu penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi oleh saudara-saudara kita di propinsi itu. Juga Irian Jaya demikian. Namun kenyataan juga menunjukkan bahwa status otonomi yang demikian luas masih belum memuaskan banyak pihak di kedua propinsi itu.Masalah di kedua propinsi itu dan berbagai aspirasi kedaerahan di propinsi-propinsi lainnya tentu tidak terlepas dari pengamatan masyarakat di tempat-tempat lain , termasuk di Jawa Barat.

Namun, apa yang kita selenggarakan pada hari ini, yaitu dialog Sunda dan politik, tidak ada kaitannya dengan apa yang terjadi di daerah-daerah lain. Kita selenggarakan pertemuan ini karena memang ada desakan kebutuhan untuk membahas secara terbuka bagaimana wawasan dan posisi Ki Sunda dalam kehidupan politik, di tanah air dan di tanah Sunda itu sendiri. Memang dialog ini ingin mencari jalan keluar, menemukan format atau formula, sekurang-kurangnya arah atau visi atas peran dan kiprah politik Ki Sunda di masa depan. Karena manusia dan masyarakat itu hidup dalam suatu kontinuum, maka mencari arah dan mewawas

masa depan tidak bisa dilepas dari latar belakang sejarah dan kondisi masa kini.

Oleh karena itu kita mengharapkan dialog ini akan menyingkap perjalanan sejarah serta pengalaman politik Ki Sunda, dalam konteks masyarakatnya maupun sebagai bagian dari keluarga bangsa yang lebih besar. Saya sangat berbahagia bahwa diantara kita ada para sesepuh, para pelaku sejarah, sehingga dari tangan pertama kita dapat memperoleh kesaksian dan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di masa lalu. Dengan sendirinya kita ingin juga mendudukkan dalam perspektif yang obyektif dan proporsional kondisi Ki Sunda dalam politik sekarang ini. Di sini banyak pelaku dan pengamat politik kontemporer, yang dengan kiprahnya akan turut mengukir sejarah dan masa depan. Dari para tokoh yang hadir pada hari ini kita harapkan akan mengemuka pandangan-pandangan mengenai keberadaan politik Ki Sunda, seberapa jauh peran dan posisinya, serta relevansi dan pengaruhnya dalam menentukan nasib dan masa depan masyarakat Sunda. Kitapaham bahwa masa depan itu dibentuk oleh proses dan keputusan-keputusan politik masa lalu dan masa kini. Kalau bisa, kita ingin menelaah bagaimana proses dan keputusan-keputusan politik itu dijalankan, dimana saja terjadinya, oleh siapa atau siapa saja yang berperan didalamnya. Semua pembicaraan itu tidak ada artinya kalau tidak berujung pada kesimpulan, sekurang-kurangnya ancang-ancang ke depan, karena kesimpulan mungkin terlalu gegabah untuk diambil hanya dalam satu kali pertemuan. Tentunya kita ingin menemukan pada akhir pembahasan hari ini, apakah kesemuanya itu sudah berjalan sesuai dengan kata hati dan pandangan kita mengenai kepatutan dan keadilan. Untuk itu barang kali kita harus menentukan parameter apa yang akan digunakan untuk mengukur derajat kepuasan kita. Dan tentunya kalau memang harus ada perbaikan atau perubahan ke arah perbaikan, kita

ingin merumuskan perubahan yang bagaimana dan bagaimana mewujudkannya.

Sekali lagi,mungkin tidak cukup satu kali pertemuan ini saja, untuk dapat menjawab berbagai tantangan ini. Sekurang-kurangnya pertemuan seperti ini dapat membuka pintu untuk dialog-dialog lanjutan.Namun menurut hemat saya sebelum kita berusaha menemukan jawaban-jawaban terhadap tantangan-tantangan itu, ada beberapa pertanyaan yang lebih praktis yang mungkin perlu direnungkan dan dicari jawabannya.Diselenggarakannya dialog ini menunjukkan bahwa ada sesuatu atau berbagai masalah,yang sampai sekarang tidak terungkap dengan jelas, tetapi secara sporadik dan parsial bermunculan di sana-sini. Kita telah bicara banyak mengenai masalah identitas budaya Sunda, yang antara lain secara mendalam dikupas pada Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) beberapa waktu yang lalu. Kita banyak mendengar keluhan mengenai ketidakberdayaan atau keterdesakan sosial ekonomi penduduk Sunda didaerahnya sendiri. Kita mendengar betapa sumberdaya Jawa Barat terhisap ke pusat (Jakarta) sehingga kekayaan dan potensi wilayah ini tidak dinikmati secara optimal oleh rakyatnya sendiri. Kita sering pula mendengar rasa geram yang disuarakan di kalangan kita, betapa keributan dan keruwetan yang terjadi di rumah tangga kita di Jawa Barat ini, disebabkan oleh orang-orang luar.

Kita mulai mendengar keluhan tentang betapa partisipasi politik Ki Sunda di tanah kelahirannya sendiri tidak optimal. Kehadirannya dilembaga-lembaga politik, seperti lembaga- lembaga perwakilan dan kepemimpinan partai-partai politik tidak proporsional. Dirasakan terjadinya political disenfrenchisement Ki Sunda, sehingga terjadi apa yang dikatakan seorang pakar ilmu politik Michael Parenti, bahwa “lacking accessibility to power resources, certain (classes of) people will chronically gain a deficient share of social desiderata”. Kalau nanti yang keluar dari pembahasan itu adalah pembenaran terhadap berbagai rasa ketidakadilan yang dirasakan oleh Ki Sunda itu, kita harus menjawab pertanyaan kenapa sampai terjadi demikian? Apa faktor-faktor determinan-nya? Apakah karena kelemahan (daya saing) kita? Kehalusan perasaan kita? Atau kelengahan? Lebih mendasar lagi pertanyaannya siapa Ki Sunda itu? Apakah batasannya, darah atau keturunan (etnik atau genetik), kultural atau tempat kelahiran? Saya sadari bahwa dalam membicarakan hal-hal tersebut kita akan memasuki wilayah yang peka. Tetapi dengan menyelenggarakan dialog ini sendiri kita seharusnya sudah siapmenghadapi berbagai kepekaan (sensitivities).

Berbeda dengan wilayah dan suku bangsa lain, kita di Jawa Barat ini memang

menghadapi masalah yang nyata yang dicerminkan oleh pertanyaan-pertanyaan tadi. Jawa Barat sekarang adalah propinsi yang paling heterogen, paling majemuk etnik dan budayanya sesudah Ibukota. Bandung barangkali adalah kota yang paling kosmopolitan sesudah Jakarta. Tidak bisa dihindari karena kedekatannya. Perguruan-perguruan tinggi nasional yang besar ada di Jawa Barat. Industri-industri terbesar jumlahnya ada di Jawa Barat. Infrastruktur yang terbaik ada di Jawa Barat. Kesemuanya itu menarik para pendatang yang mencari ilmu, pekerjaan, atau kenyamanan hidup, yang semuanya tersedia di tanah Sunda yang subur, makmur dan ramah tamah itu. Oleh karena itu, kehadiran pendatang atau mukimin itu tidak bisa dihindari.

Proses akulturasi sudah berlangsung sejak jaman penjajahan. Dari satu segi, penyilangan (cross fertilization) budaya itu bisa menghasilkan kebaikan, tidak harus selalu buruk. Namun dilain segi, bisa menyebabkan pengkikisan dan pendangkalan budaya asli dan tradisional, yang merupakan warisan yang tidak ternilai harganya. Dan menyudutkan warga asli. Betapa eratnya kaitan budaya dan politik, tergambar dalam dua kalimat dari Moynihan yang saya kutip pada awal tulisan ini.

Berbagai hal tadi telah banyak dibicarakan, tetapi secara parsial dan sektoral. Mungkin kita harus mengevaluasinya secara lebih holistik. Dan untuk itulah dialog politik ini. Karena apapun yang terjadi di masa lalu adalah akibat (baik atau buruk menurut pandangan kita sekarang ini) dari proses politik yang panjang. Dengan analisis politik mungkin kita dapat melihat secara lebih bulat dan menyeluruh berbagai fenomena itu, dibanding misalnya hanya analisis dari segi ekonomi atau kebudayaan saja.

Demikianlah, dari dialog ini kita harapkan ada pencerahan terhadap berbagai masalah dan pertanyaan tersebut. Mungkin tidak akan ditemukan suatu jawaban yang memuaskan semua pihak, mungkin pula tidak ada jawaban yang absolut, namun sebagai orang-orang yang bertanggung jawab, kita tidak bisa menghindari untuk membahasnya. Setidaknya apa yang selama ini ada di bawah permukaan, dapat kita angkat ke permukaan, sehingga berbagai masalah yang menjadi ganjalan hati itu, dapat kita bahas secara terbuka dan terpelajar, dan diletakan dalam

kerangka yang proporsional.

Saya ingin menutup sambutan ini dengan menyatakan, tidak perlu ada kekhawatiran bahwa dialog ini akan mengarah kepada sentimen separatisme, gerakan anti suku atau etnik lain. Pembicaraan disini akan lebih bersifat introspeksi dan retrospeksi. Katakanlah semacam soul searching dari para inohong Sunda termasuk para nonomannya, yang peduli dan ingin membangun masa depan yang lebih baik bagi masyarakatnya, sebagai bagian dari masyarakat bangsanya. Dialog ini juga bukan untuk memajukan kepentingan politik seseorang atau sekelompok orang. Kalaupun ada yang ingin dipentingkan adalah generasi muda Ki Sunda, agar masa depan mereka terjamin lebih baik, lebih adil dan lebih sejahtera.

KARAKTERISTIK/SIFAT KEJIWAAN ORANG SUNDA

STRENGTH (KEKUATAN)

1. Memiliki semangat kebersamaan

2. Ikatan emosional kuat

3. Berani melawan

4. Kebanggaan terhadap budaya tebal

5. Religius

6. Sikap toleransi baik

7. Sederhana

8. Loyalitas tinggi

WEAKNESS (KELEMAHAN)

1. Kurang berani tampil

2. Kurang cepat memanfaatkan peluang

3. Rasa kepedulian kurang menonjol

4. Mudah dipengaruhi

5. Sering bertentangan sendiri (internal conflict)

6. Suka mengalah

Tugas Metodologi Ilmu Pemerintahan :)

Posted by: rizalhilman on: 5 Februari 2009

Rizal Hilman R G1D050086

Teja Kusuma G1D050021

M. Insan Kamil G1D050036

M. Aji Raharjo G1D050019

Aditia Eka Permana G1D050015

Bidang Pemerintahan

Judul Skripsi

Variabel

Fungsi Regulasi Publik

1. Proses Perumusan Kebijakan Tentang Pengendalian Pencemaran Udara di provinsi DKI Jakarta

Variabel Bebas : Pencemaran Udara Variabel Terikat : Perumusan Kebijakan

2. Mekanisme pembahasan rancangan perda tentang pajak bumi sewaan

Variabel Bebas : Rancangan Perda

Variabel Terikat :Mekanisme Pembahasan

3. Mekanisme Penyusunan Anggaran Penerimaan dan Belanja Desa (Studi Di Desa Sananrejo Kecamatan Turen Kabupaten Malang)

Variabel Bebas : Anggaran Penerimaan dan Belanja Desa

Variabel Terikat : Mekanisme Penyusunan

4. Penyelenggaraan Good Governance pada Pemerintahan provinsi banten

Variabel Bebas : Good Governance

Variabel Terikat : Penyelenggaraan Pemerintahan

5. Pengaruh Implementaasi Peraturan Pemerintah no.72 Tahun 2005, tentang Desa terhadap Menejemen Pemerintahan Desa

Variabel Bebas : Implementasi PP no.72

Variabel Terikat : Menejemen Pemerintahan Desa

Fungsi Fasilitasi Publik

Fungsi Fasilitasi Publik

1. Implementasi Urusan penyediaan sarana dan prasarana umum

Variabel Bebas : Sarana dan Prasarana Umum

Variabel Terikat : Implementasi Urusan Penyediaannya

2. Implementasi kebijakan pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah

Variabel Bebas : Kebijakan Gender

Variabel Terikat : Implementasinya

3. Koordinasi pemerintahan antara dinas kehutanan dan perkebunan dengan BUMN Perhutani dalam dalam pemberdayaan masyarakat Desa sekitar hutan

Variabel Bebas : Pemberdayaan Masyarakat Desa

Variabel Terikat : Koordinasi Pemerintahan

4. Pelaksanaan Otonomi Daerah Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat.

Variabel Bebas : Kesejahteraan Masyarakat

Variabel Terikat : Pelaksanaan Otda

5. Peranan Pemerintah Daerah Dalam Pengembangan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Syariah

Variabel Bebas : Pernanan Pemerintah

Variabel Terikat : Ekonomi Kerakyatan

Fungsi Pelayanan Publik

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi peraturan daerah no. 17 tahun 2000 tentang kerjasama pemerintahan daerah dengan usaha swasta

Variabel Bebas : Kerjasama Pemda dan Swasta

Variabel Terikat : Faktor yang mempengaruhi implementasi keberhasilannya

2. Pengaruh kepemimpinan camat terhadap kualitas pelayanan dalam pembuatan KTP

Variabel Bebas : Kepemimpinan Camat

Variabel Terikat : Kualitas Pelayanan

3. Efektivitas pelayanan publik dalam pembuatan izin usaha industri : studi kasus pada dinas perindustrian

Variabel Bebas : Efektifitas Pelayanan

Variabel Terikat : Pembuatan Izin Usaha

4. Kontrol Publik Terhadap Kinerja Aparatur Pemerintah Desa Dalam Memberikan Pelayanan Umum Di Desa. (Suatu Penelitian Kualitatif Di Desa Selomar-Tani Kec. Kalasan, Kab. Sleman, Prop. Diy)

Variabel Bebas : Kontrol Publik

Variabel Terikat : Kinerja Aparatur Pemerintah Dalam Memberikan Pelayanan Umum

5. H ubungan Profesionalisme Birokrasi Pemerintahan dengan Kualitas Pelayanan Publik

Variabel Bebas : Kualitas Pelayanan Publik

Variabel Terikat : Profesionalisme Birokrasi


  • yulia: terima kasih artikel nya, sangat membantu
  • Ajiebonk: di lihat" lagi..ok juga jal WebBlog maneh, simple... dan seperti biasa, "Minimalis - Elegan" sesuai karakter design maneh ! hehehe.. terus di up
  • RB. Dinaris (Aris): Ass.... ini RB.Dinaris (Aris) FISIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.... dlm pertemuan mhs FISIP yg ketiga ini setelah yg prtma dUNIBRAW ma

Kategori